Troy dan Gabriella bertemu di pesta Malam Tahun Baru di sebuah klub
dekat rumah mereka. Troy adalah bintang basket di sekolahnya dan
Gabriella adalah siswi teladan yang jago sains dan matematika. Mereka
berdua dipanggil untuk menyanyi karaoke bersama (Start of Something
New). Mereka terlihat cocok dan saling bertukar nomor telepon sebelum
berpisah.
Mereka berdua kembali dipertemukan di East High School,
ketika mereka berada dalam satu kelas. Troy membuktikan bahwa gadis itu
benar Gabriella dengan membunyikan nomor teleponnya. Setelah itu
telponnya diambil oleh Ms. Darbus, guru drama karena berbunyi dalam
kelas. Waktu istirahat, Troy menemui Gabriella di luar kelas, dan
Gabriella bercerita bahwa ia baru saja dipindahkan ke Albuquerque, New
Mexico dan ditransfer ke East High. Troy mengantar Gabriella keliling
sekolah dan mereka berhenti di papan pengumuman untuk audisi musikal
musim dingin. Tiba-tiba Sharpay Evans, Presiden Klub Drama, datang dan
mengira Gabriella tertarik untuk ikut audisi. Setelah itu, Sharpay
berusaha untuk mengeliminasi Gabriella dari audisi tersebut. Ia
mengalihkan Gabriella ke kapten Klub Ilmiah, Taylor McKessie setelah
terlebih dahulu mengetahui prestasi Gabriella sebelumnya, di mana ia
pernah menjuarai lomba kimia.
Selama latihan basket, Troy tidak
fokus karena pikirannya hanya ke Gabriella dan ia berpikir mungkin enak
juga ikut audisi (Get’cha Head In the Game). Gabriella dan Troy kemudian
bertemu lagi secara tidak sengaja di audisi musikal ketika Sharpay dan
Ryan Evans sedang beraksi (What I've Been Looking For) tapi sayangnya
mereka berdua terlalu malu untuk ikut dalam audisi. Akhirnya, Gabriella
memberanikan diri untuk ikut, Troy juga menawarkan diri untuk bernyanyi
bersamanya, tapi Ms. Darbus berkata bahwa mereka telat. Ketika Ms.
Darbus telah pergi, Kelsi Nielsen, komposernya, menjatuhkan
kertas-kertas musiknya, maka Troy dan Gabriella dengan cepat membantu
Kelsi. Kemudian secara tidak sengaja, mereka menyanyi bersama selagi
Kelsi bermain piano (What I've Been Looking For (Reprise)). Ternyata,
Ms. Darbus mendengar mereka bernyanyi dan memberikan mereka kesempatan
untuk audisi callback.
Ketika daftar audisi callback ditempel di
papan, Sharpay sangat marah karena merasa Troy dan Gabriella tidak ikut
audisi. Teman-teman Widcats yang lainnya juga syok setelah melihat nama
Troy disitu. Di kantin, murid lainnya mengatakan rahasia mengenai hasrat
dan bakat mereka (Stick To The Status Quo). Hal ini membuat Chad dan
Taylor semakin tersadar ketika Troy dan Gabriella memulai latihan
mereka. Sejak Gabriella setuju untuk ikut tim Ilmiah, Chad dan Taylor
menginginkan teman mereka fokus di lomba daripada di musik. Untuk
mengembalikan mereka ke situasi normal, Chad dan anggota tim basket
berusaha mengerjai Troy hingga Troy mengatakan Gabriella itu tidak
penting ketika Gabriella melihatnya melalui laptop yang tersambung
wi-fi. Gabriella sedih (When There Was Me And You), dia menolak bicara
dengan Troy dan berkata tidak ikut audisi callback. Chad dan Taylor
merasa sangat bersalah karena menghancurkan hubungan Troy dan Gabriella.
Chad dan tim basket berusaha untuk bicara dengan Troy, sedangkan Taylor
dan anggota kelompok ilmiah menjelaskan yang sebenatnya pada Gabriella.
Setelah Chad menjelaskan bahwa mereka akan mendukung Troy di musikal
tersebut, Troy pergi ke rumah Gabriella dan mereka kembali berteman.
Merasa
terintimidasi karena mendengar Troy dan Gabriella kembali latihan,
Sharpay membujuk Ms. Darbus agar mengganti waktu callback maju sehari
(hari dimana Troy mengikuti kompetisi basket dan Gabriella mengikuti
kompetisi ilmiah), sehingga mereka tidak dapat berpartisipasi di
Callback. Kelsi mendengar hal itu, sehingga anggota tim basket dan
anggota ilmiah membuat rencana bersama. Di hari lomba, Taylor dan
Gabriella menggunakan komputer sekolah untuk menyebabkan sedikit
kekacauan pada lomba ilmiah dan kompetisi basket. Karena kedua kompetisi
itu ditunda, Troy dan Gabriella buru-buru ke Auditorium ketika Ryan dan
Sharpay sudah menyelesaikan aksi mereka (Bop To The Top), dan senang
karena rencana mereka berhasil. Troy dan Gabriella kemudian ikut audisi
setelah diperbolehkan Ms.Darbus (Breaking Free). Mereka beraksi dengan
baik sehingga Ms. Darbus memberikan peran utama tersebut pada mereka dan
membuat Ryan dan Sharpay menjadi peran pengganti. Troy dan Gabriella
kemudian menang dalam kompetisi mereka masing-masing, dan film berakhir
ketika seluruh murid East High berkumpul di hall untuk merayakannya
bersama (We're All In This Together)
Beverly Hills Chihuahua adalah film drama komedi action tahun 2008 dari Walt Disney Pictures yang disutradai oleh Raja Gosnell. Awalnya, film ini dijadwalkan ditayangkan pada 26 September, tetapi kemudian ditunda menjadi 3 Oktober. Gazet untuk film Disney Bolt dapat dilihat di awal film ini.
Film ini menceritakan tentang seekor anjing chihuahua yang hidup di
lingkungan Beverly Hills bernama Chloe. Dia sangat dimanjakan oleh majikannya yang merupakan seorang
desainer parfum terkenal bernama Viv. Terdapat pula
seorang penata taman bernama Sam, dan anjing chihuahua-nya bernama Papi.
Papi adalah tipikal anjing yang benar-benar anjing, dia suka menggali
lubang, makan serangga, dan tidak takut kotor. Berbeda jauh dengan Chloe
yang selalu dimanjakan dan dirawat. Bahkan Chloe memakai sepatu khusus
dan punya jadwal meni-pedi sendiri.
Suatu hari, Viv hendak pergi ke Itali dan dia
menitipkan Chloe kepada keponakannya, Rachel. Rachel yang masih senang
hura-hura tentu saja tidak telaten dalam menepati jadwal harian Chloe.
Hingga suatu hari kawan-kawan Rachel mengajaknya untuk pergi liburan ke
Mexico, dan ia pun menyetujuinya. Mereka pun berangkat bersama
kawan-kawan Rachel ke Mexico. Setibanya disana, Rachel tentu saja
mengabaikan Chloe dan hura-hura sendiri. Hal ini menyebabkan Chloe sebal
dan ia pun kabur dari hotel tempat mereka menginap.
Malang nasib Chloe, tidak lama setelah dia kabur, dia
diculik oleh sekelompok orang yang ternyata membuka adu anjing yang
merupakan kegiatan ilegal di negara itu. Chloe yang tidak pernah berada
dalam dunia dog-eat-dog tentu saja menjadi syok. Ketika dia diadu dengan
El Diablo, seekor Doberman juara, Chloe pun diselamatkan oleh Delgado,
seekor anjing herder. Delgado tadinya merupakan seekor anjing pelacak
K-9, namun karena ulah El Diablo, ia pun kehilangan daya penciumannya
dan berhenti menjadi anjing polisi. Kini Chloe pun harus berusaha kabur
dari kejaran El Diablo, karena majikan El Diablo menyadari bahwa Chloe
merupakan anjing berharga karena punya kalung anjing yang terbuat dari
berlian.
Berhasilkah Chloe menemukan jalan pulang? Bagaimana dengan nasib El Diablo dan Delgado? Saksikan saja di film fabel ini.
Sebuah film animasi kerjasama Disney dan Pixar yang ditayangkan diseluruh dunia pada tanggal 22 Juni 2012 dengan pemeran utama yaitu Puteri merida. Meskipun film Brave ini animasi kartun, kisah ini bukan sekedar kisah
anak-anak yang konyol atau penuh khayalan. Di film ini banyak yang bisa kita petik sarinya. Jika anda seorang Ibu, film ini pun
bisa memberi kita suatu pandangan lain tentang sikap seorang Ibu.
Cerita ini tentang kehidupan seorang gadis bernama Merida, Putri tunggal dari kerajaan Dunbroch di dataran tinggi Skotlandia. Ia mempunyai tiga orang adik laki - laki kembar yang nakal, lucu, lincah dan juga berambut keriting.
Merida sejak kecil sudah mewarisi bakat ayahnya yang gemar berpetualang dan bertarung. hal ini jauh dari sikap puteri raja yang biasanya bersikap halus, lembut dan lemah gemulai.
Pada hari ulang tahunnya sang ayah (Raja Fergus) menghadiahinya sebuah busur dan anak panah. Ketika pergi berburu, keluarga Merida diserang oleh seekor beruang purba. Dalam pergelutan itu, ayahnya, Fergus hilang kaki kanan apabila dibaham oleh beruang ganas itu.
Sesuai dengan tradisi kerajaan, ketika telah tumbuh dewasa kedua orangtuanya, Raja Fergus dan Ratu Elinor akan menikahkan Merida dengan salah satu dari tiga putra sulung dari tiga kepala suku utama dari kerajaan mereka. Mereka adalah putera dari Lord MacGuffin (Young MacGuffin), Lord Macintosh (Young Macintosh), dan Lord Dingwall (Wee Dingwall). Untuk menentukan siapa yang berhak menikahi Merida, mereka harus menunjukan kekuatan dan kehebatanya didepan sang Raja, Ratu dan Merida.
Merida sejak awal sudah menolak menjalankan tradisi keluarga kerajaan tersebut. Agar mereka gagal menikahinya, Merida menantang mereka untuk melakukan lomba memanah. Siapa yang memanah tempat di titik sasaran itu yang jadi pemenangnya . Sialnya Wee Dingwall berhasil memanah tepat di titik sasaran.
Merida langsung marah dan memberontak serta memanahkan busurnya kesegala arah. Hal itu membuat Ratu Elinor marah karena menurutnya Merida sudah kelewar batas dalam berikap, Merida menuduh ibunya terlalu memaksakan kehendak kepadanya.
Setelah kejadian itu Merida melarikan diri kehutan dengan menunggangi kudanya (Angus). Tanpa sengaja Merida dan Angus tersesat disebuah tempat keramat yang terdiri dari beberapa batu tinggi yang berdiri berderet membentuk lingkaran. Kemudian muncul roh - roh halus berukuran mini yang membawanya kesebuah gubuk yang dihuni seorang nenek sihir.
Kemudia Merida meminta nenek sihir itu memberikan mantra kepada ibunya agar bisa merubah pendiriannya agar tidak memaksanya menikah lagi. Mantra tersebut berhasil mengubah ibunya bahkan fisiknya juga berubah menjadi seekor beruang hitam yang besar. Semua orang termasuk Raja Fergus tidak percaya bahwa beruang itu adalah Ratu Elinor. Mereka sanngat benci beruang karena kejadian beberapa tahun lalu sehingga semua beruang harus dimusnahkan.
Film ini sungguh sangat smart dan kreatif. Tidak seperti film lain yang alur
ceritanya bisa ditebak, film ini menyuguhkan plot cerita yang apik. Dan
bedanya dengan film fiksi lain, meskipun berisi kisah dongeng, namun
kita yang berada di dunia nyata bisa mengambil moral value untuk bisa
menjadi lebih bijak dalam kehidupan kita. Bener-bener smart dan kreatif.
Film ini sangat direkomendasikan buat ditonton. Mulai dari
anak-anak sampe kakek nenek. Karena film ini sangat recommended buat ditonton, aku
nggak ceritain sampai akhir. Yang jelas, setelah
Merida kabur ke hutan, merupakan perjalanan Merida
dan Ibunya untuk saling mengerti satu sama lain. Ceritanya sangat
menyentuh dan kreatif banget. Cari tau dengan jarimu
dan tonton film. Dijamin, nggak bakal nyesel deh.
Aku kasih Traillernya dulu yaa...
Quotes Of Today :
Inti cerita film ini
adalah tentang kehidupan seorang gadis bernama Merida, putri tunggal
dari Kerajaan Dunbroch di dataran tinggi Skotlandia. Merida mempunyai
tiga orang adik laki-laki kembar yang nakal, lucu, lincah, dan juga
berambut ikal merah seperti kakak mereka.
Merida adalah seorang gadis yang sejak kecil telah mewarisi bakat sang
ayah, Raja Fergus (Billy Connolly), yang gemar berpetualang, dan
bertarung. Bakat tersebut berupa kegemaran dan kemahirannya dalam
memanah dan berpetualang. Jauh dari kebiasaan seorang putri raja yang
kerap bersikap halus, lemah-gemulai, bertuturkata halus, dan seterusnya.
Sesuai dengan tradisi kerajaan, ketika telah tumbuh dewasa, kedua
orangtuanya, Raja Fergus dan Ratu Elinor (Emma Thompson) hendak
menikahkan Merida dengan salah satu dari tiga putra sulung dari tiga
kepala suku (klan) utama dari Kerajaan Dunbroch. Mereka itu
masing-masing adalah putra dari Lord MacGuffin (Young MacGuffin), Lord
Macintosh (Young Macintosh), dan Lord Dingwall (Wee Dingwall). Untuk
menentukan siapa yang paling berhak menikahi putrinya itu, ditentukan
dengan cara masing-masing putra ketiga Lord itu menunjukkan kekuatan dan
kehebatannya di hadapan sang Raja dan Ratu, serta Putri Merida.
Jangankan sudi memilih salah satu dari putra ketiga Lord itu, Merida
sejak awal sudah menolak menjalankan tradisi keluarga kerajaan itu.
Dengan maksud agar putra ketiga Lord itu gagal menikahinya, Merida
menantang mereka untuk mengikuti lomba memanah. Siapa yang paling tepat
memanah tepat di titik sasaran, dialah yang menang. Sialnya, tanpa
sengaja, Wee Dingwall,berhasil melesatkan anak panahnya tepat di titik
sasaran.
Merida yang marah itu langsung memberontak, meloncat berdiri, mengambil
busurnya dan melepaskan tiga anak panahnya berturut-turut tepat di dua
titik sasaran yang tadi gagal disasar oleh Young MacGuffin dan Young
Macintosh, dan satu lagi anak panahnya melesat dari busurnya tepat
mengena dan membela menjadi duabagian, dari ujung ke ujung, anak panah
Wee Dingwall, sampai menembus papannya.
Pecahlah pertengkaran hebat antara Ratu Elinor dengan Merida. Elinor
menganggap Merida telah kelewat batas dalam bersikap, sedangkan Merida
menuduh ibunya terlalu memaksa kehendak kepadanya. Di dalam Istana,
saking marahnya Merida sampai menebas pedangnya menyobek lukisan kain
keluarganya. Memisahkan gambar ibunya dengan gambarnya bersama ayah dan
tiga adik kembarnya. Kemudian, dengan menunggang kudanya, Angus, Merida
melarikan diri ke hutan.
Tanpa sengaja Merida dan Angus tersesat di sebuah tempat keramat yang
terdiri dari beberapa batu tinggi yang berdiri berderet membentuk sebuah
lingkaran, kemudian muncul roh-roh halus berukuran mini yang membawanya
ke sebuah gubuk, yang ternyata dihuni oleh seorang nenek sihir (Julie
Walters).
Merida kemudian meminta nenek sihir itu untuk memberikan mantera agar
bisa mengubah pendirian ibunya yang masih bersikeras menikahkannya
dengan cara tradisi leluhurnya itu. Mantra yang berbentuk kue tersebut
kemudian memang berhasil mengubah ibunya. Bukan pendiriannya, tetapi
fisiknya. Ratu Elinor berubah menjadi seekor beruang hitam yang sangat
besar. Sial, dan bahayanya adalah semua orang, termasuk Raja Fergus sama
sekali tidak tahu, dan tidak mau percaya bahwa beruang besar tersebut
adalah Ratu Elinor. Sedangkan semua orang, terutama Raja Fergus sangat
membenci beruang. Setiap beruang harus mati di tangannya.
Ketika Merida masih kecil, dia dan ibunya hendak diserang oleh seekor
beruang hitam besar bernama Mor’du. Raja Fergus melawan beruang itu demi
menyelamatkan Merida dan ibunya. Salah satu kakinya sampai putus karena
diserang Mor’du, dan diganti dengan sebuah kaki palsu yang terbuat dari
kayu. Sejak itulah kebencian Raja Fergus terhadap beruang semakin
hebat.
Merida harus berpacu dengan waktu agar bisa mengembalikan mantra si
nenek sihir agar ibunya bisa kembali menjelma menjadi manusia, sementara
itu juga ibunya yang masih berwujud beruang itu terus diburu oleh
ayahnya beserta semua orang untuk dibunuh. Apabila sampai matahari
terbit, Merida gagal mengembalikan mantera tersebut, maka ibunya akan
berubah menjadi beruang selama-lamanya. Bukan hanya wujudnya, tetapi
juga sisi kemanusiaannya akan hilang sama sekali. Menjadi beruang dengan
semua keganasannya. Tidak akan lagi mengenal Merida, atau siapapun
lagi.
Inti cerita film ini
adalah tentang kehidupan seorang gadis bernama Merida, putri tunggal
dari Kerajaan Dunbroch di dataran tinggi Skotlandia. Merida mempunyai
tiga orang adik laki-laki kembar yang nakal, lucu, lincah, dan juga
berambut ikal merah seperti kakak mereka
Inti cerita film ini
adalah tentang kehidupan seorang gadis bernama Merida, putri tunggal
dari Kerajaan Dunbroch di dataran tinggi Skotlandia. Merida mempunyai
tiga orang adik laki-laki kembar yang nakal, lucu, lincah, dan juga
berambut ikal merah seperti kakak mereka.
Merida adalah seorang gadis yang sejak kecil telah mewarisi bakat sang
ayah, Raja Fergus (Billy Connolly), yang gemar berpetualang, dan
bertarung. Bakat tersebut berupa kegemaran dan kemahirannya dalam
memanah dan berpetualang. Jauh dari kebiasaan seorang putri raja yang
kerap bersikap halus, lemah-gemulai, bertuturkata halus, dan seterusnya.
Sesuai dengan tradisi kerajaan, ketika telah tumbuh dewasa, kedua
orangtuanya, Raja Fergus dan Ratu Elinor (Emma Thompson) hendak
menikahkan Merida dengan salah satu dari tiga putra sulung dari tiga
kepala suku (klan) utama dari Kerajaan Dunbroch. Mereka itu
masing-masing adalah putra dari Lord MacGuffin (Young MacGuffin), Lord
Macintosh (Young Macintosh), dan Lord Dingwall (Wee Dingwall). Untuk
menentukan siapa yang paling berhak menikahi putrinya itu, ditentukan
dengan cara masing-masing putra ketiga Lord itu menunjukkan kekuatan dan
kehebatannya di hadapan sang Raja dan Ratu, serta Putri Merida.
Jangankan sudi memilih salah satu dari putra ketiga Lord itu, Merida
sejak awal sudah menolak menjalankan tradisi keluarga kerajaan itu.
Dengan maksud agar putra ketiga Lord itu gagal menikahinya, Merida
menantang mereka untuk mengikuti lomba memanah. Siapa yang paling tepat
memanah tepat di titik sasaran, dialah yang menang. Sialnya, tanpa
sengaja, Wee Dingwall,berhasil melesatkan anak panahnya tepat di titik
sasaran.
Merida yang marah itu langsung memberontak, meloncat berdiri, mengambil
busurnya dan melepaskan tiga anak panahnya berturut-turut tepat di dua
titik sasaran yang tadi gagal disasar oleh Young MacGuffin dan Young
Macintosh, dan satu lagi anak panahnya melesat dari busurnya tepat
mengena dan membela menjadi duabagian, dari ujung ke ujung, anak panah
Wee Dingwall, sampai menembus papannya.
Pecahlah pertengkaran hebat antara Ratu Elinor dengan Merida. Elinor
menganggap Merida telah kelewat batas dalam bersikap, sedangkan Merida
menuduh ibunya terlalu memaksa kehendak kepadanya. Di dalam Istana,
saking marahnya Merida sampai menebas pedangnya menyobek lukisan kain
keluarganya. Memisahkan gambar ibunya dengan gambarnya bersama ayah dan
tiga adik kembarnya. Kemudian, dengan menunggang kudanya, Angus, Merida
melarikan diri ke hutan.
Tanpa sengaja Merida dan Angus tersesat di sebuah tempat keramat yang
terdiri dari beberapa batu tinggi yang berdiri berderet membentuk sebuah
lingkaran, kemudian muncul roh-roh halus berukuran mini yang membawanya
ke sebuah gubuk, yang ternyata dihuni oleh seorang nenek sihir (Julie
Walters).
Merida kemudian meminta nenek sihir itu untuk memberikan mantera agar
bisa mengubah pendirian ibunya yang masih bersikeras menikahkannya
dengan cara tradisi leluhurnya itu. Mantra yang berbentuk kue tersebut
kemudian memang berhasil mengubah ibunya. Bukan pendiriannya, tetapi
fisiknya. Ratu Elinor berubah menjadi seekor beruang hitam yang sangat
besar. Sial, dan bahayanya adalah semua orang, termasuk Raja Fergus sama
sekali tidak tahu, dan tidak mau percaya bahwa beruang besar tersebut
adalah Ratu Elinor. Sedangkan semua orang, terutama Raja Fergus sangat
membenci beruang. Setiap beruang harus mati di tangannya.
Ketika Merida masih kecil, dia dan ibunya hendak diserang oleh seekor
beruang hitam besar bernama Mor’du. Raja Fergus melawan beruang itu demi
menyelamatkan Merida dan ibunya. Salah satu kakinya sampai putus karena
diserang Mor’du, dan diganti dengan sebuah kaki palsu yang terbuat dari
kayu. Sejak itulah kebencian Raja Fergus terhadap beruang semakin
hebat.
Merida harus berpacu dengan waktu agar bisa mengembalikan mantra si
nenek sihir agar ibunya bisa kembali menjelma menjadi manusia, sementara
itu juga ibunya yang masih berwujud beruang itu terus diburu oleh
ayahnya beserta semua orang untuk dibunuh. Apabila sampai matahari
terbit, Merida gagal mengembalikan mantera tersebut, maka ibunya akan
berubah menjadi beruang selama-lamanya. Bukan hanya wujudnya, tetapi
juga sisi kemanusiaannya akan hilang sama sekali. Menjadi beruang dengan
semua keganasannya. Tidak akan lagi mengenal Merida, atau siapapun
lagi.
Inti cerita film ini
adalah tentang kehidupan seorang gadis bernama Merida, putri tunggal
dari Kerajaan Dunbroch di dataran tinggi Skotlandia. Merida mempunyai
tiga orang adik laki-laki kembar yang nakal, lucu, lincah, dan juga
berambut ikal merah seperti kakak mereka.
Merida adalah seorang gadis yang sejak kecil telah mewarisi bakat sang
ayah, Raja Fergus (Billy Connolly), yang gemar berpetualang, dan
bertarung. Bakat tersebut berupa kegemaran dan kemahirannya dalam
memanah dan berpetualang. Jauh dari kebiasaan seorang putri raja yang
kerap bersikap halus, lemah-gemulai, bertuturkata halus, dan seterusnya.
Sesuai dengan tradisi kerajaan, ketika telah tumbuh dewasa, kedua
orangtuanya, Raja Fergus dan Ratu Elinor (Emma Thompson) hendak
menikahkan Merida dengan salah satu dari tiga putra sulung dari tiga
kepala suku (klan) utama dari Kerajaan Dunbroch. Mereka itu
masing-masing adalah putra dari Lord MacGuffin (Young MacGuffin), Lord
Macintosh (Young Macintosh), dan Lord Dingwall (Wee Dingwall). Untuk
menentukan siapa yang paling berhak menikahi putrinya itu, ditentukan
dengan cara masing-masing putra ketiga Lord itu menunjukkan kekuatan dan
kehebatannya di hadapan sang Raja dan Ratu, serta Putri Merida.
Jangankan sudi memilih salah satu dari putra ketiga Lord itu, Merida
sejak awal sudah menolak menjalankan tradisi keluarga kerajaan itu.
Dengan maksud agar putra ketiga Lord itu gagal menikahinya, Merida
menantang mereka untuk mengikuti lomba memanah. Siapa yang paling tepat
memanah tepat di titik sasaran, dialah yang menang. Sialnya, tanpa
sengaja, Wee Dingwall,berhasil melesatkan anak panahnya tepat di titik
sasaran.
Merida yang marah itu langsung memberontak, meloncat berdiri, mengambil
busurnya dan melepaskan tiga anak panahnya berturut-turut tepat di dua
titik sasaran yang tadi gagal disasar oleh Young MacGuffin dan Young
Macintosh, dan satu lagi anak panahnya melesat dari busurnya tepat
mengena dan membela menjadi duabagian, dari ujung ke ujung, anak panah
Wee Dingwall, sampai menembus papannya.
Pecahlah pertengkaran hebat antara Ratu Elinor dengan Merida. Elinor
menganggap Merida telah kelewat batas dalam bersikap, sedangkan Merida
menuduh ibunya terlalu memaksa kehendak kepadanya. Di dalam Istana,
saking marahnya Merida sampai menebas pedangnya menyobek lukisan kain
keluarganya. Memisahkan gambar ibunya dengan gambarnya bersama ayah dan
tiga adik kembarnya. Kemudian, dengan menunggang kudanya, Angus, Merida
melarikan diri ke hutan.
Tanpa sengaja Merida dan Angus tersesat di sebuah tempat keramat yang
terdiri dari beberapa batu tinggi yang berdiri berderet membentuk sebuah
lingkaran, kemudian muncul roh-roh halus berukuran mini yang membawanya
ke sebuah gubuk, yang ternyata dihuni oleh seorang nenek sihir (Julie
Walters).
Merida kemudian meminta nenek sihir itu untuk memberikan mantera agar
bisa mengubah pendirian ibunya yang masih bersikeras menikahkannya
dengan cara tradisi leluhurnya itu. Mantra yang berbentuk kue tersebut
kemudian memang berhasil mengubah ibunya. Bukan pendiriannya, tetapi
fisiknya. Ratu Elinor berubah menjadi seekor beruang hitam yang sangat
besar. Sial, dan bahayanya adalah semua orang, termasuk Raja Fergus sama
sekali tidak tahu, dan tidak mau percaya bahwa beruang besar tersebut
adalah Ratu Elinor. Sedangkan semua orang, terutama Raja Fergus sangat
membenci beruang. Setiap beruang harus mati di tangannya.
Ketika Merida masih kecil, dia dan ibunya hendak diserang oleh seekor
beruang hitam besar bernama Mor’du. Raja Fergus melawan beruang itu demi
menyelamatkan Merida dan ibunya. Salah satu kakinya sampai putus karena
diserang Mor’du, dan diganti dengan sebuah kaki palsu yang terbuat dari
kayu. Sejak itulah kebencian Raja Fergus terhadap beruang semakin
hebat.
Merida harus berpacu dengan waktu agar bisa mengembalikan mantra si
nenek sihir agar ibunya bisa kembali menjelma menjadi manusia, sementara
itu juga ibunya yang masih berwujud beruang itu terus diburu oleh
ayahnya beserta semua orang untuk dibunuh. Apabila sampai matahari
terbit, Merida gagal mengembalikan mantera tersebut, maka ibunya akan
berubah menjadi beruang selama-lamanya. Bukan hanya wujudnya, tetapi
juga sisi kemanusiaannya akan hilang sama sekali. Menjadi beruang dengan
semua keganasannya. Tidak akan lagi mengenal Merida, atau siapapun
lagi.
Inti cerita film ini
adalah tentang kehidupan seorang gadis bernama Merida, putri tunggal
dari Kerajaan Dunbroch di dataran tinggi Skotlandia. Merida mempunyai
tiga orang adik laki-laki kembar yang nakal, lucu, lincah, dan juga
berambut ikal merah seperti kakak mereka.
Merida adalah seorang gadis yang sejak kecil telah mewarisi bakat sang
ayah, Raja Fergus (Billy Connolly), yang gemar berpetualang, dan
bertarung. Bakat tersebut berupa kegemaran dan kemahirannya dalam
memanah dan berpetualang. Jauh dari kebiasaan seorang putri raja yang
kerap bersikap halus, lemah-gemulai, bertuturkata halus, dan seterusnya.
Sesuai dengan tradisi kerajaan, ketika telah tumbuh dewasa, kedua
orangtuanya, Raja Fergus dan Ratu Elinor (Emma Thompson) hendak
menikahkan Merida dengan salah satu dari tiga putra sulung dari tiga
kepala suku (klan) utama dari Kerajaan Dunbroch. Mereka itu
masing-masing adalah putra dari Lord MacGuffin (Young MacGuffin), Lord
Macintosh (Young Macintosh), dan Lord Dingwall (Wee Dingwall). Untuk
menentukan siapa yang paling berhak menikahi putrinya itu, ditentukan
dengan cara masing-masing putra ketiga Lord itu menunjukkan kekuatan dan
kehebatannya di hadapan sang Raja dan Ratu, serta Putri Merida.
Jangankan sudi memilih salah satu dari putra ketiga Lord itu, Merida
sejak awal sudah menolak menjalankan tradisi keluarga kerajaan itu.
Dengan maksud agar putra ketiga Lord itu gagal menikahinya, Merida
menantang mereka untuk mengikuti lomba memanah. Siapa yang paling tepat
memanah tepat di titik sasaran, dialah yang menang. Sialnya, tanpa
sengaja, Wee Dingwall,berhasil melesatkan anak panahnya tepat di titik
sasaran.
Merida yang marah itu langsung memberontak, meloncat berdiri, mengambil
busurnya dan melepaskan tiga anak panahnya berturut-turut tepat di dua
titik sasaran yang tadi gagal disasar oleh Young MacGuffin dan Young
Macintosh, dan satu lagi anak panahnya melesat dari busurnya tepat
mengena dan membela menjadi duabagian, dari ujung ke ujung, anak panah
Wee Dingwall, sampai menembus papannya.
Pecahlah pertengkaran hebat antara Ratu Elinor dengan Merida. Elinor
menganggap Merida telah kelewat batas dalam bersikap, sedangkan Merida
menuduh ibunya terlalu memaksa kehendak kepadanya. Di dalam Istana,
saking marahnya Merida sampai menebas pedangnya menyobek lukisan kain
keluarganya. Memisahkan gambar ibunya dengan gambarnya bersama ayah dan
tiga adik kembarnya. Kemudian, dengan menunggang kudanya, Angus, Merida
melarikan diri ke hutan.
Tanpa sengaja Merida dan Angus tersesat di sebuah tempat keramat yang
terdiri dari beberapa batu tinggi yang berdiri berderet membentuk sebuah
lingkaran, kemudian muncul roh-roh halus berukuran mini yang membawanya
ke sebuah gubuk, yang ternyata dihuni oleh seorang nenek sihir (Julie
Walters).
Merida kemudian meminta nenek sihir itu untuk memberikan mantera agar
bisa mengubah pendirian ibunya yang masih bersikeras menikahkannya
dengan cara tradisi leluhurnya itu. Mantra yang berbentuk kue tersebut
kemudian memang berhasil mengubah ibunya. Bukan pendiriannya, tetapi
fisiknya. Ratu Elinor berubah menjadi seekor beruang hitam yang sangat
besar. Sial, dan bahayanya adalah semua orang, termasuk Raja Fergus sama
sekali tidak tahu, dan tidak mau percaya bahwa beruang besar tersebut
adalah Ratu Elinor. Sedangkan semua orang, terutama Raja Fergus sangat
membenci beruang. Setiap beruang harus mati di tangannya.
Ketika Merida masih kecil, dia dan ibunya hendak diserang oleh seekor
beruang hitam besar bernama Mor’du. Raja Fergus melawan beruang itu demi
menyelamatkan Merida dan ibunya. Salah satu kakinya sampai putus karena
diserang Mor’du, dan diganti dengan sebuah kaki palsu yang terbuat dari
kayu. Sejak itulah kebencian Raja Fergus terhadap beruang semakin
hebat.
Merida harus berpacu dengan waktu agar bisa mengembalikan mantra si
nenek sihir agar ibunya bisa kembali menjelma menjadi manusia, sementara
itu juga ibunya yang masih berwujud beruang itu terus diburu oleh
ayahnya beserta semua orang untuk dibunuh. Apabila sampai matahari
terbit, Merida gagal mengembalikan mantera tersebut, maka ibunya akan
berubah menjadi beruang selama-lamanya. Bukan hanya wujudnya, tetapi
juga sisi kemanusiaannya akan hilang sama sekali. Menjadi beruang dengan
semua keganasannya. Tidak akan lagi mengenal Merida, atau siapapun
lagi.
Merida mempunyai tiga
orang adik laki-laki kembar yang nakal, lucu, lincah, dan juga berambut
ikal merah seperti kakak mereka.
Merida adalah seorang gadis yang sejak kecil telah mewarisi bakat sang
ayah, Raja Fergus (Billy Connolly), yang gemar berpetualang, dan
bertarung. Bakat tersebut berupa kegemaran dan kemahirannya dalam
memanah dan berpetualang. Jauh dari kebiasaan seorang putri raja yang
kerap bersikap halus, lemah-gemulai, bertuturkata halus, dan seterusnya.
Sesuai dengan tradisi kerajaan, ketika telah tumbuh dewasa, kedua
orangtuanya, Raja Fergus dan Ratu Elinor (Emma Thompson) hendak
menikahkan Merida dengan salah satu dari tiga putra sulung dari tiga
kepala suku (klan) utama dari Kerajaan Dunbroch. Mereka itu
masing-masing adalah putra dari Lord MacGuffin (Young MacGuffin), Lord
Macintosh (Young Macintosh), dan Lord Dingwall (Wee Dingwall). Untuk
menentukan siapa yang paling berhak menikahi putrinya itu, ditentukan
dengan cara masing-masing putra ketiga Lord itu menunjukkan kekuatan dan
kehebatannya di hadapan sang Raja dan Ratu, serta Putri Merida.
Jangankan sudi memilih salah satu dari putra ketiga Lord itu, Merida
sejak awal sudah menolak menjalankan tradisi keluarga kerajaan itu.
Dengan maksud agar putra ketiga Lord itu gagal menikahinya, Merida
menantang mereka untuk mengikuti lomba memanah. Siapa yang paling tepat
memanah tepat di titik sasaran, dialah yang menang. Sialnya, tanpa
sengaja, Wee Dingwall,berhasil melesatkan anak panahnya tepat di titik
sasaran.
Merida yang marah itu langsung memberontak, meloncat berdiri, mengambil
busurnya dan melepaskan tiga anak panahnya berturut-turut tepat di dua
titik sasaran yang tadi gagal disasar oleh Young MacGuffin dan Young
Macintosh, dan satu lagi anak panahnya melesat dari busurnya tepat
mengena dan membela menjadi duabagian, dari ujung ke ujung, anak panah
Wee Dingwall, sampai menembus papannya.
Pecahlah pertengkaran hebat antara Ratu Elinor dengan Merida. Elinor
menganggap Merida telah kelewat batas dalam bersikap, sedangkan Merida
menuduh ibunya terlalu memaksa kehendak kepadanya. Di dalam Istana,
saking marahnya Merida sampai menebas pedangnya menyobek lukisan kain
keluarganya. Memisahkan gambar ibunya dengan gambarnya bersama ayah dan
tiga adik kembarnya. Kemudian, dengan menunggang kudanya, Angus, Merida
melarikan diri ke hutan.
Tanpa sengaja Merida dan Angus tersesat di sebuah tempat keramat yang
terdiri dari beberapa batu tinggi yang berdiri berderet membentuk sebuah
lingkaran, kemudian muncul roh-roh halus berukuran mini yang membawanya
ke sebuah gubuk, yang ternyata dihuni oleh seorang nenek sihir (Julie
Walters).
Merida kemudian meminta nenek sihir itu untuk memberikan mantera agar
bisa mengubah pendirian ibunya yang masih bersikeras menikahkannya
dengan cara tradisi leluhurnya itu. Mantra yang berbentuk kue tersebut
kemudian memang berhasil mengubah ibunya. Bukan pendiriannya, tetapi
fisiknya. Ratu Elinor berubah menjadi seekor beruang hitam yang sangat
besar. Sial, dan bahayanya adalah semua orang, termasuk Raja Fergus sama
sekali tidak tahu, dan tidak mau percaya bahwa beruang besar tersebut
adalah Ratu Elinor. Sedangkan semua orang, terutama Raja Fergus sangat
membenci beruang. Setiap beruang harus mati di tangannya.
Ketika Merida masih kecil, dia dan ibunya hendak diserang oleh seekor
beruang hitam besar bernama Mor’du. Raja Fergus melawan beruang itu demi
menyelamatkan Merida dan ibunya. Salah satu kakinya sampai putus karena
diserang Mor’du, dan diganti dengan sebuah kaki palsu yang terbuat dari
kayu. Sejak itulah kebencian Raja Fergus terhadap beruang semakin
hebat.
Merida harus berpacu dengan waktu agar bisa mengembalikan mantra si
nenek sihir agar ibunya bisa kembali menjelma menjadi manusia, sementara
itu juga ibunya yang masih berwujud beruang itu terus diburu oleh
ayahnya beserta semua orang untuk dibunuh. Apabila sampai matahari
terbit, Merida gagal mengembalikan mantera tersebut, maka ibunya akan
berubah menjadi beruang selama-lamanya. Bukan hanya wujudnya, tetapi
juga sisi kemanusiaannya akan hilang sama sekali. Menjadi beruang dengan
semua keganasannya. Tidak akan lagi mengenal Merida, atau siapapun
lagi.
Selain kualitas animasinya yang luar biasa, ceritanya yang apik, film
ini juga disisipi oleh banyak adegan kocak yang mengundang tawa.
Adegan-adegan tersebut jauh dari kesan dibuat-buat. Semuanya mengalir
wajar. Tokoh-tokoh dengan berbagai karakter juga tampil dengan porsi
yang seimbang. Jauh dari kesan sekadar tempelan
Merida mempunyai tiga
orang adik laki-laki kembar yang nakal, lucu, lincah, dan juga berambut
ikal merah seperti kakak mereka.
Merida adalah seorang gadis yang sejak kecil telah mewarisi bakat sang
ayah, Raja Fergus (Billy Connolly), yang gemar berpetualang, dan
bertarung. Bakat tersebut berupa kegemaran dan kemahirannya dalam
memanah dan berpetualang. Jauh dari kebiasaan seorang putri raja yang
kerap bersikap halus, lemah-gemulai, bertuturkata halus, dan seterusnya.
Sesuai dengan tradisi kerajaan, ketika telah tumbuh dewasa, kedua
orangtuanya, Raja Fergus dan Ratu Elinor (Emma Thompson) hendak
menikahkan Merida dengan salah satu dari tiga putra sulung dari tiga
kepala suku (klan) utama dari Kerajaan Dunbroch. Mereka itu
masing-masing adalah putra dari Lord MacGuffin (Young MacGuffin), Lord
Macintosh (Young Macintosh), dan Lord Dingwall (Wee Dingwall). Untuk
menentukan siapa yang paling berhak menikahi putrinya itu, ditentukan
dengan cara masing-masing putra ketiga Lord itu menunjukkan kekuatan dan
kehebatannya di hadapan sang Raja dan Ratu, serta Putri Merida.
Jangankan sudi memilih salah satu dari putra ketiga Lord itu, Merida
sejak awal sudah menolak menjalankan tradisi keluarga kerajaan itu.
Dengan maksud agar putra ketiga Lord itu gagal menikahinya, Merida
menantang mereka untuk mengikuti lomba memanah. Siapa yang paling tepat
memanah tepat di titik sasaran, dialah yang menang. Sialnya, tanpa
sengaja, Wee Dingwall,berhasil melesatkan anak panahnya tepat di titik
sasaran.
Merida yang marah itu langsung memberontak, meloncat berdiri, mengambil
busurnya dan melepaskan tiga anak panahnya berturut-turut tepat di dua
titik sasaran yang tadi gagal disasar oleh Young MacGuffin dan Young
Macintosh, dan satu lagi anak panahnya melesat dari busurnya tepat
mengena dan membela menjadi duabagian, dari ujung ke ujung, anak panah
Wee Dingwall, sampai menembus papannya.
Pecahlah pertengkaran hebat antara Ratu Elinor dengan Merida. Elinor
menganggap Merida telah kelewat batas dalam bersikap, sedangkan Merida
menuduh ibunya terlalu memaksa kehendak kepadanya. Di dalam Istana,
saking marahnya Merida sampai menebas pedangnya menyobek lukisan kain
keluarganya. Memisahkan gambar ibunya dengan gambarnya bersama ayah dan
tiga adik kembarnya. Kemudian, dengan menunggang kudanya, Angus, Merida
melarikan diri ke hutan.
Tanpa sengaja Merida dan Angus tersesat di sebuah tempat keramat yang
terdiri dari beberapa batu tinggi yang berdiri berderet membentuk sebuah
lingkaran, kemudian muncul roh-roh halus berukuran mini yang membawanya
ke sebuah gubuk, yang ternyata dihuni oleh seorang nenek sihir (Julie
Walters).
Merida kemudian meminta nenek sihir itu untuk memberikan mantera agar
bisa mengubah pendirian ibunya yang masih bersikeras menikahkannya
dengan cara tradisi leluhurnya itu. Mantra yang berbentuk kue tersebut
kemudian memang berhasil mengubah ibunya. Bukan pendiriannya, tetapi
fisiknya. Ratu Elinor berubah menjadi seekor beruang hitam yang sangat
besar. Sial, dan bahayanya adalah semua orang, termasuk Raja Fergus sama
sekali tidak tahu, dan tidak mau percaya bahwa beruang besar tersebut
adalah Ratu Elinor. Sedangkan semua orang, terutama Raja Fergus sangat
membenci beruang. Setiap beruang harus mati di tangannya.
Ketika Merida masih kecil, dia dan ibunya hendak diserang oleh seekor
beruang hitam besar bernama Mor’du. Raja Fergus melawan beruang itu demi
menyelamatkan Merida dan ibunya. Salah satu kakinya sampai putus karena
diserang Mor’du, dan diganti dengan sebuah kaki palsu yang terbuat dari
kayu. Sejak itulah kebencian Raja Fergus terhadap beruang semakin
hebat.
Merida harus berpacu dengan waktu agar bisa mengembalikan mantra si
nenek sihir agar ibunya bisa kembali menjelma menjadi manusia, sementara
itu juga ibunya yang masih berwujud beruang itu terus diburu oleh
ayahnya beserta semua orang untuk dibunuh. Apabila sampai matahari
terbit, Merida gagal mengembalikan mantera tersebut, maka ibunya akan
berubah menjadi beruang selama-lamanya. Bukan hanya wujudnya, tetapi
juga sisi kemanusiaannya akan hilang sama sekali. Menjadi beruang dengan
semua keganasannya. Tidak akan lagi mengenal Merida, atau siapapun
lagi.
Selain kualitas animasinya yang luar biasa, ceritanya yang apik, film
ini juga disisipi oleh banyak adegan kocak yang mengundang tawa.
Adegan-adegan tersebut jauh dari kesan dibuat-buat. Semuanya mengalir
wajar. Tokoh-tokoh dengan berbagai karakter juga tampil dengan porsi
yang seimbang. Jauh dari kesan sekadar tempelan
Merida mempunyai tiga
orang adik laki-laki kembar yang nakal, lucu, lincah, dan juga berambut
ikal merah seperti kakak mereka.
Merida adalah seorang gadis yang sejak kecil telah mewarisi bakat sang
ayah, Raja Fergus (Billy Connolly), yang gemar berpetualang, dan
bertarung. Bakat tersebut berupa kegemaran dan kemahirannya dalam
memanah dan berpetualang. Jauh dari kebiasaan seorang putri raja yang
kerap bersikap halus, lemah-gemulai, bertuturkata halus, dan seterusnya.
Sesuai dengan tradisi kerajaan, ketika telah tumbuh dewasa, kedua
orangtuanya, Raja Fergus dan Ratu Elinor (Emma Thompson) hendak
menikahkan Merida dengan salah satu dari tiga putra sulung dari tiga
kepala suku (klan) utama dari Kerajaan Dunbroch. Mereka itu
masing-masing adalah putra dari Lord MacGuffin (Young MacGuffin), Lord
Macintosh (Young Macintosh), dan Lord Dingwall (Wee Dingwall). Untuk
menentukan siapa yang paling berhak menikahi putrinya itu, ditentukan
dengan cara masing-masing putra ketiga Lord itu menunjukkan kekuatan dan
kehebatannya di hadapan sang Raja dan Ratu, serta Putri Merida.
Jangankan sudi memilih salah satu dari putra ketiga Lord itu, Merida
sejak awal sudah menolak menjalankan tradisi keluarga kerajaan itu.
Dengan maksud agar putra ketiga Lord itu gagal menikahinya, Merida
menantang mereka untuk mengikuti lomba memanah. Siapa yang paling tepat
memanah tepat di titik sasaran, dialah yang menang. Sialnya, tanpa
sengaja, Wee Dingwall,berhasil melesatkan anak panahnya tepat di titik
sasaran.
Merida yang marah itu langsung memberontak, meloncat berdiri, mengambil
busurnya dan melepaskan tiga anak panahnya berturut-turut tepat di dua
titik sasaran yang tadi gagal disasar oleh Young MacGuffin dan Young
Macintosh, dan satu lagi anak panahnya melesat dari busurnya tepat
mengena dan membela menjadi duabagian, dari ujung ke ujung, anak panah
Wee Dingwall, sampai menembus papannya.
Pecahlah pertengkaran hebat antara Ratu Elinor dengan Merida. Elinor
menganggap Merida telah kelewat batas dalam bersikap, sedangkan Merida
menuduh ibunya terlalu memaksa kehendak kepadanya. Di dalam Istana,
saking marahnya Merida sampai menebas pedangnya menyobek lukisan kain
keluarganya. Memisahkan gambar ibunya dengan gambarnya bersama ayah dan
tiga adik kembarnya. Kemudian, dengan menunggang kudanya, Angus, Merida
melarikan diri ke hutan.
Tanpa sengaja Merida dan Angus tersesat di sebuah tempat keramat yang
terdiri dari beberapa batu tinggi yang berdiri berderet membentuk sebuah
lingkaran, kemudian muncul roh-roh halus berukuran mini yang membawanya
ke sebuah gubuk, yang ternyata dihuni oleh seorang nenek sihir (Julie
Walters).
Merida kemudian meminta nenek sihir itu untuk memberikan mantera agar
bisa mengubah pendirian ibunya yang masih bersikeras menikahkannya
dengan cara tradisi leluhurnya itu. Mantra yang berbentuk kue tersebut
kemudian memang berhasil mengubah ibunya. Bukan pendiriannya, tetapi
fisiknya. Ratu Elinor berubah menjadi seekor beruang hitam yang sangat
besar. Sial, dan bahayanya adalah semua orang, termasuk Raja Fergus sama
sekali tidak tahu, dan tidak mau percaya bahwa beruang besar tersebut
adalah Ratu Elinor. Sedangkan semua orang, terutama Raja Fergus sangat
membenci beruang. Setiap beruang harus mati di tangannya.
Ketika Merida masih kecil, dia dan ibunya hendak diserang oleh seekor
beruang hitam besar bernama Mor’du. Raja Fergus melawan beruang itu demi
menyelamatkan Merida dan ibunya. Salah satu kakinya sampai putus karena
diserang Mor’du, dan diganti dengan sebuah kaki palsu yang terbuat dari
kayu. Sejak itulah kebencian Raja Fergus terhadap beruang semakin
hebat.
Merida harus berpacu dengan waktu agar bisa mengembalikan mantra si
nenek sihir agar ibunya bisa kembali menjelma menjadi manusia, sementara
itu juga ibunya yang masih berwujud beruang itu terus diburu oleh
ayahnya beserta semua orang untuk dibunuh. Apabila sampai matahari
terbit, Merida gagal mengembalikan mantera tersebut, maka ibunya akan
berubah menjadi beruang selama-lamanya. Bukan hanya wujudnya, tetapi
juga sisi kemanusiaannya akan hilang sama sekali. Menjadi beruang dengan
semua keganasannya. Tidak akan lagi mengenal Merida, atau siapapun
lagi.
Selain kualitas animasinya yang luar biasa, ceritanya yang apik, film
ini juga disisipi oleh banyak adegan kocak yang mengundang tawa.
Adegan-adegan tersebut jauh dari kesan dibuat-buat. Semuanya mengalir
wajar. Tokoh-tokoh dengan berbagai karakter juga tampil dengan porsi
yang seimbang. Jauh dari kesan sekadar tempelan
nti cerita film ini
adalah tentang kehidupan seorang gadis bernama Merida, putri tunggal
dari Kerajaan Dunbroch di dataran tinggi Skotlandia. Merida mempunyai
tiga orang adik laki-laki kembar yang nakal, lucu, lincah, dan juga
berambut ikal merah seperti kakak mereka.
Merida adalah seorang gadis yang sejak kecil telah mewarisi bakat sang
ayah, Raja Fergus (Billy Connolly), yang gemar berpetualang, dan
bertarung. Bakat tersebut berupa kegemaran dan kemahirannya dalam
memanah dan berpetualang. Jauh dari kebiasaan seorang putri raja yang
kerap bersikap halus, lemah-gemulai, bertuturkata halus, dan seterusnya.
Sesuai dengan tradisi kerajaan, ketika telah tumbuh dewasa, kedua
orangtuanya, Raja Fergus dan Ratu Elinor (Emma Thompson) hendak
menikahkan Merida dengan salah satu dari tiga putra sulung dari tiga
kepala suku (klan) utama dari Kerajaan Dunbroch. Mereka itu
masing-masing adalah putra dari Lord MacGuffin (Young MacGuffin), Lord
Macintosh (Young Macintosh), dan Lord Dingwall (Wee Dingwall). Untuk
menentukan siapa yang paling berhak menikahi putrinya itu, ditentukan
dengan cara masing-masing putra ketiga Lord itu menunjukkan kekuatan dan
kehebatannya di hadapan sang Raja dan Ratu, serta Putri Merida.
Jangankan sudi memilih salah satu dari putra ketiga Lord itu, Merida
sejak awal sudah menolak menjalankan tradisi keluarga kerajaan itu.
Dengan maksud agar putra ketiga Lord itu gagal menikahinya, Merida
menantang mereka untuk mengikuti lomba memanah. Siapa yang paling tepat
memanah tepat di titik sasaran, dialah yang menang. Sialnya, tanpa
sengaja, Wee Dingwall,berhasil melesatkan anak panahnya tepat di titik
sasaran.
Merida yang marah itu langsung memberontak, meloncat berdiri, mengambil
busurnya dan melepaskan tiga anak panahnya berturut-turut tepat di dua
titik sasaran yang tadi gagal disasar oleh Young MacGuffin dan Young
Macintosh, dan satu lagi anak panahnya melesat dari busurnya tepat
mengena dan membela menjadi duabagian, dari ujung ke ujung, anak panah
Wee Dingwall, sampai menembus papannya.
Pecahlah pertengkaran hebat antara Ratu Elinor dengan Merida. Elinor
menganggap Merida telah kelewat batas dalam bersikap, sedangkan Merida
menuduh ibunya terlalu memaksa kehendak kepadanya. Di dalam Istana,
saking marahnya Merida sampai menebas pedangnya menyobek lukisan kain
keluarganya. Memisahkan gambar ibunya dengan gambarnya bersama ayah dan
tiga adik kembarnya. Kemudian, dengan menunggang kudanya, Angus, Merida
melarikan diri ke hutan.
Tanpa sengaja Merida dan Angus tersesat di sebuah tempat keramat yang
terdiri dari beberapa batu tinggi yang berdiri berderet membentuk sebuah
lingkaran, kemudian muncul roh-roh halus berukuran mini yang membawanya
ke sebuah gubuk, yang ternyata dihuni oleh seorang nenek sihir (Julie
Walters).
Merida kemudian meminta nenek sihir itu untuk memberikan mantera agar
bisa mengubah pendirian ibunya yang masih bersikeras menikahkannya
dengan cara tradisi leluhurnya itu. Mantra yang berbentuk kue tersebut
kemudian memang berhasil mengubah ibunya. Bukan pendiriannya, tetapi
fisiknya. Ratu Elinor berubah menjadi seekor beruang hitam yang sangat
besar. Sial, dan bahayanya adalah semua orang, termasuk Raja Fergus sama
sekali tidak tahu, dan tidak mau percaya bahwa beruang besar tersebut
adalah Ratu Elinor. Sedangkan semua orang, terutama Raja Fergus sangat
membenci beruang. Setiap beruang harus mati di tangannya.
Ketika Merida masih kecil, dia dan ibunya hendak diserang oleh seekor
beruang hitam besar bernama Mor’du. Raja Fergus melawan beruang itu demi
menyelamatkan Merida dan ibunya. Salah satu kakinya sampai putus karena
diserang Mor’du, dan diganti dengan sebuah kaki palsu yang terbuat dari
kayu. Sejak itulah kebencian Raja Fergus terhadap beruang semakin
hebat.
Merida harus berpacu dengan waktu agar bisa mengembalikan mantra si
nenek sihir agar ibunya bisa kembali menjelma menjadi manusia, sementara
itu juga ibunya yang masih berwujud beruang itu terus diburu oleh
ayahnya beserta semua orang untuk dibunuh. Apabila sampai matahari
terbit, Merida gagal mengembalikan mantera tersebut, maka ibunya akan
berubah menjadi beruang selama-lamanya. Bukan hanya wujudnya, tetapi
juga sisi kemanusiaannya akan hilang sama sekali. Menjadi beruang dengan
semua keganasannya. Tidak akan lagi mengenal Merida, atau siapapun
lagi.
Selain kualitas animasinya yang luar biasa, ceritanya yang apik, film
ini juga disisipi oleh banyak adegan kocak yang mengundang tawa.
Adegan-adegan tersebut jauh dari kesan dibuat-buat. Semuanya mengalir
wajar. Tokoh-tokoh dengan berbagai karakter juga tampil dengan porsi
yang seimbang. Jauh dari kesan sekadar tempelan.
nti cerita film ini
adalah tentang kehidupan seorang gadis bernama Merida, putri tunggal
dari Kerajaan Dunbroch di dataran tinggi Skotlandia. Merida mempunyai
tiga orang adik laki-laki kembar yang nakal, lucu, lincah, dan juga
berambut ikal merah seperti kakak mereka.
Merida adalah seorang gadis yang sejak kecil telah mewarisi bakat sang
ayah, Raja Fergus (Billy Connolly), yang gemar berpetualang, dan
bertarung. Bakat tersebut berupa kegemaran dan kemahirannya dalam
memanah dan berpetualang. Jauh dari kebiasaan seorang putri raja yang
kerap bersikap halus, lemah-gemulai, bertuturkata halus, dan seterusnya.
Sesuai dengan tradisi kerajaan, ketika telah tumbuh dewasa, kedua
orangtuanya, Raja Fergus dan Ratu Elinor (Emma Thompson) hendak
menikahkan Merida dengan salah satu dari tiga putra sulung dari tiga
kepala suku (klan) utama dari Kerajaan Dunbroch. Mereka itu
masing-masing adalah putra dari Lord MacGuffin (Young MacGuffin), Lord
Macintosh (Young Macintosh), dan Lord Dingwall (Wee Dingwall). Untuk
menentukan siapa yang paling berhak menikahi putrinya itu, ditentukan
dengan cara masing-masing putra ketiga Lord itu menunjukkan kekuatan dan
kehebatannya di hadapan sang Raja dan Ratu, serta Putri Merida.
Jangankan sudi memilih salah satu dari putra ketiga Lord itu, Merida
sejak awal sudah menolak menjalankan tradisi keluarga kerajaan itu.
Dengan maksud agar putra ketiga Lord itu gagal menikahinya, Merida
menantang mereka untuk mengikuti lomba memanah. Siapa yang paling tepat
memanah tepat di titik sasaran, dialah yang menang. Sialnya, tanpa
sengaja, Wee Dingwall,berhasil melesatkan anak panahnya tepat di titik
sasaran.
Merida yang marah itu langsung memberontak, meloncat berdiri, mengambil
busurnya dan melepaskan tiga anak panahnya berturut-turut tepat di dua
titik sasaran yang tadi gagal disasar oleh Young MacGuffin dan Young
Macintosh, dan satu lagi anak panahnya melesat dari busurnya tepat
mengena dan membela menjadi duabagian, dari ujung ke ujung, anak panah
Wee Dingwall, sampai menembus papannya.
Pecahlah pertengkaran hebat antara Ratu Elinor dengan Merida. Elinor
menganggap Merida telah kelewat batas dalam bersikap, sedangkan Merida
menuduh ibunya terlalu memaksa kehendak kepadanya. Di dalam Istana,
saking marahnya Merida sampai menebas pedangnya menyobek lukisan kain
keluarganya. Memisahkan gambar ibunya dengan gambarnya bersama ayah dan
tiga adik kembarnya. Kemudian, dengan menunggang kudanya, Angus, Merida
melarikan diri ke hutan.
Tanpa sengaja Merida dan Angus tersesat di sebuah tempat keramat yang
terdiri dari beberapa batu tinggi yang berdiri berderet membentuk sebuah
lingkaran, kemudian muncul roh-roh halus berukuran mini yang membawanya
ke sebuah gubuk, yang ternyata dihuni oleh seorang nenek sihir (Julie
Walters).
Merida kemudian meminta nenek sihir itu untuk memberikan mantera agar
bisa mengubah pendirian ibunya yang masih bersikeras menikahkannya
dengan cara tradisi leluhurnya itu. Mantra yang berbentuk kue tersebut
kemudian memang berhasil mengubah ibunya. Bukan pendiriannya, tetapi
fisiknya. Ratu Elinor berubah menjadi seekor beruang hitam yang sangat
besar. Sial, dan bahayanya adalah semua orang, termasuk Raja Fergus sama
sekali tidak tahu, dan tidak mau percaya bahwa beruang besar tersebut
adalah Ratu Elinor. Sedangkan semua orang, terutama Raja Fergus sangat
membenci beruang. Setiap beruang harus mati di tangannya.
Ketika Merida masih kecil, dia dan ibunya hendak diserang oleh seekor
beruang hitam besar bernama Mor’du. Raja Fergus melawan beruang itu demi
menyelamatkan Merida dan ibunya. Salah satu kakinya sampai putus karena
diserang Mor’du, dan diganti dengan sebuah kaki palsu yang terbuat dari
kayu. Sejak itulah kebencian Raja Fergus terhadap beruang semakin
hebat.
Merida harus berpacu dengan waktu agar bisa mengembalikan mantra si
nenek sihir agar ibunya bisa kembali menjelma menjadi manusia, sementara
itu juga ibunya yang masih berwujud beruang itu terus diburu oleh
ayahnya beserta semua orang untuk dibunuh. Apabila sampai matahari
terbit, Merida gagal mengembalikan mantera tersebut, maka ibunya akan
berubah menjadi beruang selama-lamanya. Bukan hanya wujudnya, tetapi
juga sisi kemanusiaannya akan hilang sama sekali. Menjadi beruang dengan
semua keganasannya. Tidak akan lagi mengenal Merida, atau siapapun
lagi.
Selain kualitas animasinya yang luar biasa, ceritanya yang apik, film
ini juga disisipi oleh banyak adegan kocak yang mengundang tawa.
Adegan-adegan tersebut jauh dari kesan dibuat-buat. Semuanya mengalir
wajar. Tokoh-tokoh dengan berbagai karakter juga tampil dengan porsi
yang seimbang. Jauh dari kesan sekadar tempelan.